
Kata menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi pelajar dan mahasiswa. Setiap orang pasti ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, dan sudah tentu berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Masalah menyontek selalu terkait dengan tes atau ujian. Banyak orang beranggapan menyontek sebagai masalah yang biasa saja, namun ada juga yang memandang serius masalah ini.
Fenomena ini sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah bahkan di dunia perkuliahan. Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari afektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek mencontek.
Bagaimanapun alasannya, mencontek adalah perbuatan yang tidak jujur atau curang.
Sebaiknya kita tidak membiasakan nyontek, karena dengan mencontek nilai yang kita dapat tidaklah murni dan sesuai dengan kemampuan diri kita yang sebenarnya. Jika kita sekolah atau kuliah untuk mencari ilmu sebaiknya kita tidak mencontek. Tapi apabila tujuan kita sekolah atau kuliah hanya ingin mendapat nilai tinggi saja maka contek-mencontek bisa menjadi cara yang cukup ampuh.
Sistem pendidikan di negara kita memang terlalu mengagung-agungkan nilai. Siswa yang memiliki nilai tinggi akan sangat dihormati dan disayang oleh guru dan sekolah. Padahal orang yang pintar secara akademis belum tentu bisa sukses di dunia kerja karena banyak sekali faktor yang menentukan dalam meraih kesuksesan.
Bodoh di satu mata pelajaran pun bisa membuat seorang siswa menderita seumur hidup karena ujian nasional mengharuskan siswa menjadi orang sempurna di semua mata pelajaran yang diujikan. Peribahasa tak ada gading yang tak retak / tidak ada orang yang sempurna diabaikan. Itulah sebabnya nilai dianggap begitu penting sehingga mencontek dan manipulasi pun menjadi halal.


